Makalah: Rendahnya Minat Baca Peserta Didik
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejarah mencatat
bahwa peradaban umat manusia yang maju tidak dibangun hanya dengan
mengandalakan sumber daya alam yang melimpah, melainkan dengan membangun sumber
daya manusia yang literat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Bangsa dengan budaya literasi dan kecerdasan yang tinggi menunjukkan kemampuan
bangsa tersebut dalam berkolaborasi, berpikir kritis, kreatif, komunikatif,
sehingga dapat memenangi persaingan global. Hal ini sejalan dengan tujuan dan
cita-cita luhur para pendiri bangsa yang tertera dalam Pembukaan Undang-Undang
Dasar tahun 1945, yakni untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Salah satu pondasi
dasar menciptakan SDM Indonesia yang unggul adalah menumbuhkan budaya literasi
dan minat baca pada peserta didik. Budaya literasi, khususnya baca-tulis,
memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan, karena ilmu pengetahuan
sejatinya dihasilkan melalui aktivitas membaca dan menulis. Di semua
negara-negara maju juga memiliki budaya literasi yang tinggi, tidak hanya
berlangsung di lingkungan pendidikan formalnya saja, melainkan sudah menjadi
tradisi atau budaya dalam masyarakatnya. Literasi menjadi kunci bagi kemajuan
suatu bangsa, karena pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi diraih dengan
memiliki kemampuan membaca yang tinggi.
Tidak dapat
dimungkiri bahwa pikiran yang kritis lahir dari kebiasaan membaca dalam
mempertanyakan segala sesuatu. Sayangnya, hal seperti ini belum menjadi
kebiasaan cara berpikir yang baik, karena tingkat literasi yang masih sangat
rendah. Minat baca yang rendah mengakibatkan kemampuan berpikir kritis juga
turut rendah, sehingga aat menerima beragam informasi akan sulit mencerna dan
memilah mana informasi yang benar dan yang bohong. Atas dasar inilah penyebaran
hoaks atau berita bohong sangat menjamur di Indonesia. Bagaimana tidak?
Intensitas mengakses internet dan media sosial sangat tinggi, sementara budaya
literasi dan daya berpikir kritis lemah.
Di lingkup pendidikan formal, sejauh ini strategi pengembangan minat baca di sekolah ataupun perguruan tinggi memang belum memperlihatkan fungsinya dalam mengintegrasikan kegiatan pembelajaran yang berupaya menjadikan semua warganya gemar membaca. Fasilitas seperti perpustakaan yang ada di sekolah-sekolah jarang dimanfatkan secara optimal oleh peserta didik. Demikian pula dengan perpustakaan umum yang ada disetiap kota atau kabupaten juga jarang dikunjungi para peserta didik. Hal tersebut terjadi karena peserta didik tersebut tidak mempunyai minat baca yang tinggi. Upaya untuk melakukan peningkatan minat baca pun juga telah dilakukan. Tinggal bagaimana peserta didik tersebut menanggapi betapa pentingnya menumbuhkan minat baca pada dirinya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang diatas, rumusan masalah yang dapat diambil adalah
1. Apakah
faktor yang menyebabkan rendahnya minat baca pada peserta didik?
2. Bagaimana
upaya untuk meningkatkan minat baca pada peserta didik?
C. Tujuan
Berdasarkan
rumusan masalah diatas, tujuan penulisan makalah ini adalah
1. Untuk
mengetahui faktor yang menyebabkan rendahnya minat membaca pada peserta didik.
2. Untuk
mengetahui upaya yang dapat meningkatkan minat membaca pada peserta didik.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Minat Baca di Indonesia
Minat dalam KBBI
diartikan sebagai kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu dengan gairah
atau semangat. Sementara itu, membaca merupakan salah satu keterampilan
berbahasa yang berkaitan erat dengan kebutuhan hidup manusia. Sebagai
keterampilan dasar yang dimiliki setiap orang, membaca menjadi penunjang
kemampuan dasar manusia lainnya, yaitu menulis dan berbicara. Hal ini
menandakan bahwa minat baca yang tinggi juga akan meningkatkan kemampuan
seseorang dalam menulis ataupun berbicara.
Menurut Mansyur
(2018) minat baca adalah tingkat kesenangan yang kuat karena adanya dorongan
yang timbul pada diri sesorang dalam melakukan segala sesuatu yang berkaitan
dengan kegiatan membaca untuk memperoleh informasi, serta menimbulkan
kesenangan dan manfaat bagi dirinya. Pada dasarnya, minat baca tumbuh karena
adanya dorongan dari diri masing-masing. Namun demikian, lingkungan juga
menjadi faktor utama tumbuhnya minat baca seseorang, sehingga untuk
meningkatkannya perlu kesadaran setiap individu serta lingkungan mendukung.
Programme for
International Student Assesment (PISA) tahun 2015 menyajikan data bahwa
pemahaman membaca peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-64 dari 72
negara yang berpartisipasi. Pada PISA tahun 2018 peserta didik Indonesia turun
menjadi peringkat ke-74 dari 79 negara yang berpartisipasi dengan skor 371 dari
skor rata-rata 489 (OECD, 2018). Dari kedua hasil ini dapat dikatakan bahwa
praktik pendidikan yang dilaksanakan di sekolah sejatinya belum memperlihatkan
fungsi sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang berupaya menjadikan semua
warganya menjadi terampil membaca untuk mendukung mereka sebagai pembelajar
sepanjang hayat ( Kemendikbud, 2018).
Sebenarnya budaya
membaca di Indonesia memang bukanlah sebuah tradisi yang diwariskan nenek
moyang. Indonesia juga relaif belum lama dinyatakan bebas dari buta aksara.
Sistem pemerintahan penjajah tentu tidak memungkinkan masyarakat dapat membaca.
Belanda baru membuka pendidikan formal untuk kaum pribumi setelah
diselenggarakannya Politik Etis. Itu pun hanya sebatas bagi kaum bangsawan
saja. Hal ini ejalan dengan pendapat Kasiyun (2015) bahwa budaya peninggalan
nenek moyang pada umumnya adalah tradisi menyimak. Masyarakat Indonesia,
khususnya Jawa, dapat bertahan semalam suntuk menyaksikan pagelaran wayang.
Tradisi Macapat, sebuh buku dibaca sesorang dalam situasi tertentu dan disimak
oleh orang. Tradisi kelahiran bayi juga dibacakan Serat Yusuf dan disimak oleh
banyak orang. Karya tulis Mahabharata dan Serat Menak menjadi populer justru
setelah diangkat ke dalam sastra lisan yang diperdengarkan dalam pagelaran
wayang dan kentrung.
B. Faktor yang Menyebabkan Rendahnya Minat
Baca
1. Lemahnya
Sarana dan Prasarana Pendidikan
Salah satu faktor
yang menyebabkan kemampuan membaca peserta didik tergolong rendah karena sarana
dan prasarana pendidikan khususnya perpustakaan dengan buku-bukunya belum
mendapat prioritas dalam penyelenggaraannya. Sedangkan kegiatan membaca
membutuhkan adanya buku-buku yang cukup dan bermutu serta eksistensi
perpustakaan dalam menunjang proses pembelajaran. Faktor lain yang menghambat
kegiatan peserta didik untuk mau membaca adalah kurikulum yang tidak secara
tegas mencantumkan kegiatan membaca dalam suatu bahan kajian, serta para tenaga
kependidikan baik sebagai guru, dosen maupun para pustakawan yang kurang
memberikan motivasi pada peserta didik
bahwa membaca itu penting untuk menambah ilmu pengetahuan, melatih
berpikir kritis, menganalisis persoalan, dan sebagainya.
Kurangnya
pengelolaan perpustakaan dan koleksi buku dihampir semua sekolah pada semua
jenis dan jenjang pendidikan, kondisi perpustakaannya masih belum memenuhi
standar sarana dan prasarana pendidikan. Perpustakaan sekolah belum sepenuhnya
berfungsi. Jumlah buku-buku perpustakaan jauh dari mencukupi kebutuhan tuntutan
membaca sebagai basis pendidikan, serta peralatan dan tenaga yang tidak sesuai
dengan kebutuhan. Padahal perpustakaan sekolah merupakan sumber membaca dan
sumber belajar sepanjang hayat yang sangat vital dalam mencerdaskan kehidupan
bangsa.
2. Kemajuan
Teknologi
Minat baca peserta
didik yang rendah saat ini disebabkan oleh faktor perkembangan teknologi dan
pusat-pusat informasi yang lebih menarik, perkembangan tempat-tempat hiburan
(entertainment), dan acara televisi sehingga status dan kedudukan perpustakaan,
serta citra perpustakaan dalam pandangan peserta didik sangat rendah. Hal ini
secara lebih luas, dengan menengok sendi-sendi budaya masyarakat yang pada
dasarnya kurang mempunyai landasan budaya membaca, atau pewarisan secara
intelektual. Mayarakat dalam memberitakan sesuatu termasuk cerita-cerita
terdahulu lebih mengandalkan budaya lisan daripada tulisan. Latar budaya lisan
itulah yang menjadi salah satu sebab lemahnya budaya masyarakat, termasuk minat
pada pustaka dan perpustakaan dalam memenuhi kebutuhan informasi dan ilmu
pengetahuan.
3. Kurangnya
Dukungan Keluarga dan Lingkungan
Rendahnya minat
baca di kalangan anak dapat disebabkan oleh kondisi keluarga yang tidak
mendukung, terutama dari orangtua yang tidak mencontohkan kegemaran membaca
kepada anak-anak mereka. Selain itu, kurangnya perhatian dan pengawasan orang
tua terhadap kegiatan anak-anaknya. Hal ini dapat dikaitkan pula dengan konsep
pendidikan yang diterapkan dan dipahami orang tua. Sementara terkai dengan
fasilitas, minimnya ketersediaan bahan bacaan di rumah juga dapat membuat anak
kurang berminat pada kegiatan membaca karena tidak ada atau kurangnya sumber
bacaan yang tersedia di rumah. Selain dari sisi keluarga, terdapat juga
pengaruh dari lingkungan. Karena pengaruh ajakan yang begitu kuat dari
lingkungan (teman), anak lebih memilih bermain dengan teman-temannya dibanding
membaca buku.
Dan terakhir,
ketersediaan waktu yang kurang membuat anak kurang berminat untuk membaca.
Seperti kondisi beberapa informan anak yang bersekolah dengan sistem full day
school, tentu sebagian besar waktu dalam sehari sudah banyak dihabiskan di
sekolah. Saat pandemi Covid-19 ini juga menyebabkan ketersediaan waktu anak
menjadi kurang karena sekolah dengan sistem daring dari rumah. Sekolah dengan
sistem daring membuat anak harus membagi waktunya antara mengikuti kegiatan
pemebelajaran dan membantu orang tuanya di rumah sehingga anak menjadi kurang
berminat untuk membaca.
Rendahnya minat
baca tentu tidak hanya sebatas masalah kuantitas dan kualitas buku saja,
melainkan terkait juga pada banyak hal yang saling berhubungan. Mislanya,
mental anak dan lingkungan keluarga/masyarakat yang tidak mendukung. Terlebih
saat wabah covid-19 ini yang banyak mengubah kebiasaan lama ke kebiasaan baru.
Hal tersebut membutuhkan penyesuaian diri yang tidak mudah dan bahkan berakibat
dengan kesehatan mental peserta didik.
C. Upaya untuk Meningkatkan Minat Baca
1. Sistem Pendidikan Nasional dan Kurikulum
Sistem Pendidikan Nasioanl yang diatur dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
diharapkan dapat memberikan arah agar tujuan pendidikan di tanah air semakin
jelas dalam mengembangkan kemampuan potensi anak bangsa agar terwujudnya SDM
yang kompetitif dalam era globalisasi, sehingga bangsa Indonesia tidak selalu
ketinggalan dalam kecerdasan intelektual. Oleh sebab itu penyelenggaraan
pendidikan harus memenuhi beberapa prinsip antara lain :
1) Sebagai
suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung
sepanjang hayat.
2) Mengembangkan
budaya membaca, menulis, dan berhitung.
3) Paradigma
Tenaga Kependidikan Guru, dosen maupun para pustakawan sekolah sebaga tenaga
kependidikan harus merubah mekanisme proses pembelajaran menuju “membaca”
sebagai suatu sistem belajar sepanjang hayat.
4) Pengelolaan
Perpustakaan Sekolah dengan baik. Perpustakaan merupakan salah satu sumber
belajar yang sangat penting untuk menunjang proses belajar mengajar. Melalui
penyediaan perpustakaan, peserta didik dapat berinteraksi dan terlibat langsung
baik secara fisik maupun mental dalam proses belajar (Darmono, 2001:2).
5) Motivasi
guru dan keluarga pada dasarnya, pihak sekolah/ guru bertanggungjawab ikut
menumbuhkan minat baca bagi siswa, karena dari sanalah sumber kreatifitas siswa
akan muncul.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Minat dalam KBBI
diartikan sebagai kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu dengan gairah
atau semangat. Sementara itu, membaca merupakan salah satu keterampilan
berbahasa yang berkaitan erat dengan kebutuhan hidup manusia. Sebagai
keterampilan dasar yang dimiliki setiap orang, membaca menjadi penunjang
kemampuan dasar manusia lainnya, yaitu menulis dan berbicara. Hal ini menandakan
bahwa minat baca yang tinggi juga akan meningkatkan kemampuan seseorang dalam
menulis ataupun berbicara.
Pengembangan
budaya literasi di masyarakat menjadi kunci pembangunan SDM Indonesia, terutama
di era disrupsi saat ini. Minat baca
masyarakat yang tinggi dapat meningkatkan pemahaman dan daya nalar dalam mengolah informasi secara analitis, kritis, dan
reflektif. Namun, strategi
pengembangan minat baca
yang dilakukan, khususnya di
sekolah dan perguruan tinggi, belum memperlihatkan hasil yang maksimal untuk
menjadikan semua warganya gemar membaca. Masih rendahnya minat baca di
Indonesia tentu tidak semata-mata disebabkan sarana perpustakaan yang tidak
memadai, melainkan karena minimnya
kesadaran masyarakat mengenai
peran dan fungsi perpustakaan.
Untuk
meningkatkan minat baca, peserta didik membutuhkan dorongan, rangsangan, dan
motivasi. Dengan adanya motivasi membaca dapat memberikan dampak positif yaitu
membuat peserta didik terdorong untuk membaca lagi secara berulang-ulang.
DAFTAR PUSTAKA
Kasiyun, S.
(2015). Upaya Meningkatkan Minat
Baca sebagai Sarana
untuk Mencerdaskan Bangsa.
Jurnal Pena Indonesia (JPI), 1(1), 79-95.
https://kumparan.com/kumparansains/menilik-kualitas-pendidikan-indonesiamenurut-pisa-3-periode-terakhir-1sO0SlXNroC/full. 2019.
“Menilik Kualitas Pendidikan Indonesia
Menurut PISA”
Harjasujana, A.S.& Damaianti,.2003. Membaca dalam Teori dan Praktik.Bandung:
Mutiara
http://saktaheksaputri.blogspot.com/2013/12/rendahnya-minat-baca-sisa.html. 2011.“Makalah Rendahnya Minat Baca”
Kemdikbud.
(2016a).
Panduan Gerakan Literasi Sekolah
di Sekolah Menengah Atas. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Mansyur, U. (2018 Maret 14).
Mahasiswa dan Dosen UMI Serukan Gerakan
Gempusta. Tribun Timur, 10.
Rahadian, G., Rohanda,
& Anwar, R.K. (2014). Peranan
Perpustakaan Sekolah dalam Meningkatkan
Budaya Gemar Membaca.
Jurnal Kajian Informasi
dan Perpustakaan, 2(1), 27–36.
Komentar
Posting Komentar